an
di seluruh Indonesia. Ketika saya sendiri membaca biografi beliau yang
berjudul “Chairul Tanjung si Anak Singkong”, bulutangkis masuk salah
satu bab yang penting dalam kehidupannya.Tepatnya di bab 28 yang
berjudul Piala Thomas Terakhir bagi Indonesia, diceritakanlah awal karir
organisasi Chairul Tanjung (populer dengan nama CT) dalam Bulutangkis
Indonesia. Di buku itu, Indra Kartasasmita yang saat itu menjadi
Pengurus KONI Pusat mendatangi CT untuk mengajaknya mencalonkan diri
dalam Munas PBSI di Jakarta.
“Pak Indra tidak salah datang ke sini dan meminta saya menjadi Ketua PBSI? Meski suka bulutangkis sejak SMA, saya tak punya pengalaman memimpin bidang olahraga,” begitu kalimat jelas yang dituturkan CT.
Tapi Pak Indra tetap kekeh meminta CT untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBSI. Tekadnya itu dilakoni saat Indra datang lagi dengan beberapa tokoh bulutangkis yang menceritakan kondisi PBSI saat itu. Tak hanya sekali, CT menceritakan nyaris 10 kali ia membujuknya. Akhirnya CT bersedia mencalonkan diri.
PBSI yang selalu diketuai oleh orang militer memang memiliki sebab, karena saat itu orang militer yang sukses memimpin sebuah organisasi, maka pangkatnya anak naik. Terlihat saat Pak Tri Sutrisno yang memimpin PBSI berhasil membawa 2 medali emas Olimpiade Barcelona 1992, setelah itu ia berhasil naik pangkat dari KSAD menjadi Panglima ABRI hingga menjadi Wakil Presiden. Inilah yang disebut gaya kepemimpinan Pak Harto, siapa yang berhasil dia yang akan naik dari bawah ke atas.
Selain CT, nama lain yang muncul untuk memimpin PBSI adalah SBY yang menjadi Kepala Staf Teritorial (Kaster) pada masa itu, namun mendengar informasi dari anak buahnya soal PBSI itu (baca cerita diatas), akhirnya SBY tak jadi mencalonkan diri.
Di MUNAS PBSI pada 2-4 November 2001 di Hotel Indonesia, Jakarta, ada pertarungan antara Chairul Tanjung dan Justian Suhandinata, sosok yang sudah malang melintang di dunia Perbulutangkisan saat itu. Pertarungan dua orang itu dimenangkan CT. Babak baru buat PBSI, sosok sipil memimpin PBSI yang sudah lama dipimpin Militer.
Sosok yang tahu segalanya
Selepas menjadi Pimpinan PBSI, CT langsung terjun ke lapangan, tak seperti Ketum PBSI lain yang bersifat militeristik, yang cuma mau laporan ‘Asal Bapak Senang’. Dan sosok yang paling menarik perhatiannya adalah Christian Hadinata, sosok yang tahu segalanya mengenai PBSI. Saat itu, issue krusial yang dibicarakan oleh Koh Chris adalah mengenai seleksi Pelatnas, yang berdasarkan subjektivitas alias kedekatan, bukan berdasarkan profesionalisme. Cara penilaian ini dianggap khas militer ala Soeharto yang menurun hingga kini.
Prestasi terbaik yang terjadi masa Chairul Tanjung adalah raihan emas Asian Games 2002 oleh Taufik Hidayat yang dilanjutkan dengan Emas Olimpiade Athena 2004. “Saya persembahkan keberhasilan ini bagi Pak Chairul Tanjung,” begitu ujar Taufik di buku biografi CT.
Selain prestasi itu, Beregu Putra Indonesia juga sanggup mempertahankan Piala Thomas untuk kali kelima, mengalahkan Malaysia dengan 3-2 di Final. Sebuah capaian yang dilihat dari sudut pandang masa kini bisa dibilang terlalu bagus (kalo kita lihat hari ini bulutangkis gak ada Thomas, Uber, Emas Olimpiade, apalagi Sudirman, ya mending jaman dulu).
Kutipan terakhir dari bab itu adalah sebuah torehan istimewa CT terhadap PBSI.
Manajemen PBSI saya terapkan profesional. Tidak ada lagi kedekatan pribadi selain kepada kemampuan kerja yang masing-masing memang berbeda
Mantan atlet yang selama ini menjadi pelatih, dan bisa diajak kerja sama mengikuti pola kerja saya, kemudian saya sarankan agar fokus saja melatih para atlet. Penentuan prestasi mereka dibuktikan nanti saat pertandingan
Untuk tahu cerita lengkapnya, beli buku “Chairul Tanjung Si anak Singkong” yang telah menjadi buku best seller
“Pak Indra tidak salah datang ke sini dan meminta saya menjadi Ketua PBSI? Meski suka bulutangkis sejak SMA, saya tak punya pengalaman memimpin bidang olahraga,” begitu kalimat jelas yang dituturkan CT.
Tapi Pak Indra tetap kekeh meminta CT untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBSI. Tekadnya itu dilakoni saat Indra datang lagi dengan beberapa tokoh bulutangkis yang menceritakan kondisi PBSI saat itu. Tak hanya sekali, CT menceritakan nyaris 10 kali ia membujuknya. Akhirnya CT bersedia mencalonkan diri.
PBSI yang selalu diketuai oleh orang militer memang memiliki sebab, karena saat itu orang militer yang sukses memimpin sebuah organisasi, maka pangkatnya anak naik. Terlihat saat Pak Tri Sutrisno yang memimpin PBSI berhasil membawa 2 medali emas Olimpiade Barcelona 1992, setelah itu ia berhasil naik pangkat dari KSAD menjadi Panglima ABRI hingga menjadi Wakil Presiden. Inilah yang disebut gaya kepemimpinan Pak Harto, siapa yang berhasil dia yang akan naik dari bawah ke atas.
Selain CT, nama lain yang muncul untuk memimpin PBSI adalah SBY yang menjadi Kepala Staf Teritorial (Kaster) pada masa itu, namun mendengar informasi dari anak buahnya soal PBSI itu (baca cerita diatas), akhirnya SBY tak jadi mencalonkan diri.
Di MUNAS PBSI pada 2-4 November 2001 di Hotel Indonesia, Jakarta, ada pertarungan antara Chairul Tanjung dan Justian Suhandinata, sosok yang sudah malang melintang di dunia Perbulutangkisan saat itu. Pertarungan dua orang itu dimenangkan CT. Babak baru buat PBSI, sosok sipil memimpin PBSI yang sudah lama dipimpin Militer.
Sosok yang tahu segalanya
Selepas menjadi Pimpinan PBSI, CT langsung terjun ke lapangan, tak seperti Ketum PBSI lain yang bersifat militeristik, yang cuma mau laporan ‘Asal Bapak Senang’. Dan sosok yang paling menarik perhatiannya adalah Christian Hadinata, sosok yang tahu segalanya mengenai PBSI. Saat itu, issue krusial yang dibicarakan oleh Koh Chris adalah mengenai seleksi Pelatnas, yang berdasarkan subjektivitas alias kedekatan, bukan berdasarkan profesionalisme. Cara penilaian ini dianggap khas militer ala Soeharto yang menurun hingga kini.
Prestasi terbaik yang terjadi masa Chairul Tanjung adalah raihan emas Asian Games 2002 oleh Taufik Hidayat yang dilanjutkan dengan Emas Olimpiade Athena 2004. “Saya persembahkan keberhasilan ini bagi Pak Chairul Tanjung,” begitu ujar Taufik di buku biografi CT.
Selain prestasi itu, Beregu Putra Indonesia juga sanggup mempertahankan Piala Thomas untuk kali kelima, mengalahkan Malaysia dengan 3-2 di Final. Sebuah capaian yang dilihat dari sudut pandang masa kini bisa dibilang terlalu bagus (kalo kita lihat hari ini bulutangkis gak ada Thomas, Uber, Emas Olimpiade, apalagi Sudirman, ya mending jaman dulu).
Kutipan terakhir dari bab itu adalah sebuah torehan istimewa CT terhadap PBSI.
Manajemen PBSI saya terapkan profesional. Tidak ada lagi kedekatan pribadi selain kepada kemampuan kerja yang masing-masing memang berbeda
Mantan atlet yang selama ini menjadi pelatih, dan bisa diajak kerja sama mengikuti pola kerja saya, kemudian saya sarankan agar fokus saja melatih para atlet. Penentuan prestasi mereka dibuktikan nanti saat pertandingan
Untuk tahu cerita lengkapnya, beli buku “Chairul Tanjung Si anak Singkong” yang telah menjadi buku best seller

Tidak ada komentar:
Posting Komentar